PENDIDIKAN
AGAMA DARI ASPEK KEJIWAAN
Tulisan
ini dibuat untuk memenuhi Ujian Tengah Semester pada mata kuliah Ilmu Jiwa
Belajar II
Disusun
Oleh:
Lilis
Muslicha – 12214210410
Kelas
PAI 4B
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TARBIYAH
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
IBN KHALDUN BOGOR
2014
M / 1435 H
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaykum
warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT.,
atas berkat, rahmat dan limpahannya. Shalawat serta salam tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW yang patut kita jadikan pegangan bagi seluruh umat manusia.
Saya mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan semangat motivasi
dalam membuat tulisan ini dari awal hingga selesai. Berkat dorongan itulah,
yang membuat saya semakin terdorong untuk menyelesaikannya tepat pada waktunya.
Tulisan yang berjudul "Pendidikan
Agama dari Aspek Kejiwaan" ini diajukan
untuk memenuhi nilai Ujian Tengah Semester mata kuliah Ilmu Jiwa Belajar
2 yang diajar oleh Ibu Santi Lisnawati.
Saya menyadari
bahwa dalam penyusunan tulisan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan
yang lebih lanjut, akan saya terima dengan senang hati.
Terima kasih.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
|
|
|
Bogor, 20
April 2014
Penulis
|
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.........................................................................................
i
DAFTAR
ISI........................................................................................................
ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah..........................................................................
1
B.
Rumusan
Masalah....................................................................................
1
C. Tujuan Penulisan......................................................................................
2
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pendidikan
Agama Ditinjau dari Aspek Kejiwaan............................. 3
1.
Pengertian Pendidikan
Agama..........................................................
3
2.
Ditinjau dari Aspek
Kejiwaan..............................................................
4
B.
Kajian
yang Terkandung dalam Wilayah Pendidikan Agama....... 5
1.
Pendidikan Aqidah
Dilihat dari Aspek Kejiwaan............................
5
2.
Pendidikan Ibadah
Dilihat dari Aspek Kejiwaan.............................
8
3.
Pendidikan Akhlak
Dilihat dari Aspek Kejiwaan.............................
11
C.
Internalisasi
Agama..................................................................................
14
1.
Pengertian
Internalisasi Agama.........................................................
14
2.
Cara Menanamkan
Nilai-nilai Agama...............................................
15
3.
Faktor yang
Mempengaruhi dalam Menanamkan Nilai Agama...
20
D.
Kejiwaan
Seseorang yang Memegang Teguh dan Menjalankan
Agamanya...................................................................................................
22
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................................
24
B. Saran............................................................................................................
24
DAFTAR
PUSTAKA.........................................................................................
26
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan
pada dasarnya adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia dengan adanya
pembelajaran. Melalui pendidikan agama, bimbingan yang dilakukan seorang dewasa
kepada terdidik dalam masa pertumbuhan tentunya didasarkan pada nilai-nilai
Islam dan berisikan ajaran Islam. Pendidikan agama juga berpengaruh dari aspek
kejiwaan yakni menanamkan nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang
sehingga tercapai suatu keberhasilan seorang pendidik dalam memperhatikan
perkembangan keberagamaan seseorang. Karena pendidikan tanpa agama akan
pincang, yaitu terjadi ketidakseimbangan antara moralitas dengan pengetahuan
yang dimilikinya. Selain itu, ada beberapa aspek yang dapat menunjang
keberhasilan pendidikan, yaitu memberikan pendidikan akidah atau kepercayaan mengenai
agama Islam kepada peserta didik, memberikan tauladan yang baik dengan
mencontohkan akhlak yang sesuai dengan syari’at Islam, dan dikuatkan dengan
banyak beribadah kepada Allah swt., serta menanamkan nilai-nilai agama pada
peserta didik. Sehingga tertanamlah pada setiap diri individu yang berasaskan
Islami.
Berdasarkan
latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik untuk membuat tulisan
mengenai kejiwaan seseorang melalui pendidikan agama. Tulisan ini yang diberi
judul ”Pendidikan Agama dari Aspek Kejiwaan”
B. Rumusan Masalah
1. Apakah
pengertian pendidikan agama ditinjau dari aspek kejiwaan?
2. Jelaskan
kajian apa sajakah yang termasuk dalam wilayah pendidikan agama.
3. Bahasan
apa sajakah yang terkandung ke dalam Internalisasi Agama?
4. Bagaimanakah
kejiwaan seseorang yang memegang teguh dan menjalankan agamanya?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui
pengertian pendidikan agama yang ditinjau dari aspek kejiwaan.
2. Menjelaskan
kajian-kajian yang terkandung dalam wilayah pendidikan agama.
3. Membahas
mengenai hal-hal yang terkandung ke dalam Internalisasi Agama.
4. Mengetahui
kejiwaan seseorang yang memegang teguh dan menjalankan agamanya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Agama Ditinjau dari Aspek Kejiwaan
1. Pengertian
Pendidikan Agama
Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan
Pendidikan Keagamaan, pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan
pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik
dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui
mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan (Pasal 1
ayat 1).
Sementara
itu pengertian lebih spesifik tentang Pendidikan Agama Islam, yakni sebagai
usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang dilakukan
secara berencana dan sadar untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan
dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik di sekolah.[1]
Adapun
menurut beberapa pendapat ahli mengenai pengertian pendidikan agama Islam
yaitu:
a) Pendidikan
agama Islam menurut Yusuf al-Qardhawi adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal
dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu,
pendidikan agama Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan
damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan
segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
b) Pendidikan
agama Islam menurut Zakiah Darajat adalah Pendidikan melalui ajaran-ajaran
agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar
nantinya setelah selesai dari pendidikan itu iadapat memahami, menghayati, dan
mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh,
serta menjadikan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi
keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.[2]
Dari
uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam ialah
bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa
pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim yang sejati dan tentunya
didasarkan pada nilai-nilai Islam dan berisikan ajaran Islam
2. Ditinjau
dari Aspek Kejiwaan
Hubungan
psikologi agama dan pendidikan Islam sangat terkait dengan tujuan pendidikan
yakni menanamkan nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang, menurut
Menurut Quraish Shihab, tujuan pendidikan al Qur`an (Islam) adalah membina
manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya
sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep
yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan
oleh al Qur`an, untuk bertaqwa kepada -Nya.
Untuk
mencapai keberhasilan itu seorang pendidik perlu memperhatikan perkembangan
keberagamaan seseorang. Pendidikan tanpa agama akan pincang, yaitu terjadi
ketidakseimbangan antara moralitas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Seperti
dicontohkan ada anak yang menguasai teknologi komputer karena tidak dibarengi
oleh jiwa keagamaan maka pengetahuannya dipakai mencuri uang di bank.
Sebaliknya pengetahuan keagamaan tanpa dibarengi manajemen pendidikan yang baik
maka akan percuma. Pendidikan dinilai punya peran penting dalam menanamkan rasa
keagamaan pada seseorang. Pembinaan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman
dan pembiasaan yang diperoleh sejak kecil. Kebiasaan itu tertanam berangsur
sesuai dengan kecerdasan seseorang.[3]
B. Kajian yang Terkandung dalam Wilayah Pendidikan Agama
1. Pendidikan
Aqidah Dilihat dari Aspek Kejiwaan
a) Pengertian
pendidikan aqidah
Aqidah
berasal dari bahasa arab yaitu “Aqada” yang berarti ikatan atau simpulan. Aqidah
secara etimologi berasal dari kata ‘aqd yng berarti pengikatan. Aqidah adalah
apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang
benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati
yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya.
Aqidah
secara syara’ yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para
RasulNya dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk.
Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.[4]
b) Pendidikan
aqidah dilihat dari aspek kejiwaan
Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya bahwa aqidah merupakan kepercayaan yang terikat dalam jiwa seseorang, maka
tentunya dapat dipastikan bahwa benar tidaknya aqidah yang dianut seseorang
juga akan ikut mempengaruhi kejiwaan orang tersebut.
Pada awal-awal masa perjuangan Rasulullah SAW untuk
menyebarkan agama Islam di kota Mekkah, hal pertama yang ditanamkan oleh
Rasulullah adalah pelurusan aqidah para penduduk kota Mekkah.
Hal
tersebut tercermin dari banyaknya ayat-ayat yang berhubungan dengan aqidah
khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan meng-Esakan Allah.
Pelurusan
aqidah tersebut bertujuan untuk membentuk pribadi dan jiwa para kaum muslimin
agar tidak mudah goyah dan tetap berpegang teguh kepada ajaran agama Allah,
yakni mampu membentuk sikap dan tingkah laku keseharian seseorang, diantaranya sebagai
berikut:
1) Ketenangan
jiwa
Orang yang memiliki aqidah
yang kuat akan memiliki ketenangan jiwa, sebab ia telah percaya bahwa apa yang
ia dapatkan di dunia ini baik itu sesuatu yang indah maupun sesuatu yang buruk
semuanya telah diatur oleh Allah, dan ia telah paham bahwa dunia ini hanyalah
sementara hanya tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya
menuju tempat tujuan akhir yang abadi yaitu akhirat.
2) Kesiapan
Diri dalam Menghadapi Masalah
Ketika aqidah seseorang telah mantap, ia akan sadar
bahwa seluruh musibah yang menimpanya pada hakikatnya merupakan bukti rasa
cinta Allah kepadanya yang sekaligus menjadi jalan untuk meningkatkan level
keimanannya.[5]
3) Meluruskan
akidah dan membersihkannya dari berbagai perilaku syirik. Iman yang benar dan
kuat akan melahirkan kesadaran yang tinggi untuk beribadah kepada-Nya (an-Nuur:
51) dan memberikan kemanfaatan kepada masyarakatnya.
Sesungguhnya jawaban
oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul
menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan
Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
Sedangkan akidah yang rusak yang penuh dengan syirik
akan melahirkan kegelisahan dan kegoncangan dalam hidup.
dengan ikhlas kepada Allah,
tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu
dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh
burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS.
al-Hajj: 31).[6]
Imam
Ghazali juga menjelaskan dalam kitab Al-Ihya’ Ulumuddin cara menanamkan aqidah
pada anak-anak. Beliau mengatakan, ”Cara menamkan keyakinan ini bukanlah dengan
mengajarkan keterampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya
adalah menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan tafsirnya, membaca hadits
dan makna-maknanya serta sibuk dengan tugas ibadah. Dengan demikian,
kepercayaan dan keyakinan anak akan terus bertambah kokoh sejalan dengan
semakin seringnya dalil-dalil Al-Qur’an yang didengar olehnya dan juga sesuai
dengan berbagai bukti dari hadits Nabi yang ia telah dan berbagai faedah yang
bisa ia petik darinya. Ini ditambah lagi oleh cahaya-cahaya ibadah dan
amalan-amalan yang dikerjakannya yang akan semakin memperkuat itu semua”.[7]
Oleh
karena itulah jika ditinjau dari segi kejiwaan pendidikan aqidah semestinya
harus dilakukan sedini mungkin, sebab sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya
bahwa aqidah merupakan elemen penting dalam agama khususnya Islam bahkan dapat
dikategorikan sebagai salah satu pondasi yang sangat fundamental dalam Islam
dan agar pendidikan anak yang merupakan amanat dari Allah swt bisa
dipertanggungjawabkan dengan baik.
2. Pendidikan
Ibadah Dilihat dari Aspek Kejiwaan
a) Pengertian
pendidikan ibadah
Ibadah
yang secara awam diartikan sesembahan, pengabdian, sebenarnya adalah istilah
yang paling luas dan mencakup tidak hanya penyembahan, tetapi juga berhubungan
dengan laku manusia meliputi kehidupan. Yang paling beradab, dari segi
pandangan spiritual, adalah mereka yang mematuhi dengan sangat rapat kemauan
Tuhan, di dalam semua perbuatan-perbuatan mereka.[8] Yaitu tunduk dan patuh
terhadap aturan-aturan-Nya untuk mendapatkan keridhoan Allah swt.
Dari
segi bahasa, ibadah berarti taat, tunduk, menurut, mengikuti, dan doa.[9] Sedangkan secara
terminologi, ibadah berarti melaksanakan perintah-perintah Allah secara baik.[10]
Dapat
disimpukan bahwa pendidikan ibadah adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridhaan Allah serta
menundukan jiwa kepada-Nya.
b) Pendidikan
ibadah dilihat dari aspek kejiwaan
Pada hakikatnya ibadah merupakan cara
untuk menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk ciptaan Allah.
Sebagaimana firman Alla swt.
dan aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(QS. Az-Zariyat: 56)
Tidak ada yang disebah dan
tempat mengabdi kecuali kepada-Nya. Seluruh hidupnya baik yang bersifat jiwa
maupun raga sepenuhnya hanya diserahkan kepada Tuhan seluruh alam, dengan cara
mematuhi perintah-Nya dan mencegah larangan-Nya.
Dengan banyak beribadah
kepada Allah swt. dalam mendapatkan keridhoan-Nya, maka akan tertanam dalam
diri manusia suatu keyakinan untuk tetap mengabdi kepada Allah swt. dan terhindar
dari segala penyimpangan-penyimpangan yang dapat merusak diri manusia itu
sendiri pada pengabdiannya kepada-Nya. Oleh karena itu, dengan terealisasikannya
ibadah kepada Allah swt., maka semangat hidup akan semakin membara dan terpatri
dalam jiwa seseorang untuk mendapatkan keridhoan Allah swt.
Selain itu, ada beberapa hal
yang dapat dilihat dari aspek kejiwaan setelah seseorang ibadah kepada Sang
Pencipta. Diantaranya adalah:
1) Berusaha
beribadah yang benar sesuai dengan syariat Islam, sambil berusaha pula
menghayati hikmah, kandungan dan manfaatnya. Ibadah puasa misalnya, adalah
ibadah yang mengandung berbagai hikmah dan manfaat, seperti: belajar
mengendalikan diri (dalam segala hal), latihan keikhlasan dalam beramal,
latihan merasakan kehadiran Allah swt. sebagai Zat Yang Maha Mengetahui segala
amal perbuatan, latihan menumbuhkan kasih sayang kepada kaum dhuafa (golongan
yang lemah) dan latihan menumbuhkan kesadaran ukhuwah dan berjamaah. Ibadah
zakat, membuktikan rasa syukur kepada Allah swt., membersihkan dan menyucikan
serta mengembangkan harta, sumber dana pembangunan umat, menghilangkan
kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin.[11]
2) Zikir
dan Membaca Al-Quran
Setiap hamba mendambakan
ketenangan dan ketentraman jiwa dalam menjalani kehidupan ini. Harapan demikian
dapat dicapai dengan mendekatkan diri kepada sumber dari segala ketenangan dan
ketentraman yakni Allah Azza wa jalla. Sering menyebut, memuja dan mengingat
asma-Nya di dalam hati maka jiwa akan tenang. Adapun bentuk ibadah yang
dimaksud adalah zikir dan membaca Alquran.
- Zikir
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’ad: 28)
Alquran
menjelaskan begitu penting melakukan zikrullah (berzikir kepada Allah)
untuk ketentraman hati hamba-Nya yang beriman. Hal ini diperjelas oleh
Rasulullah saw. dalam hadits Beliau. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Dan Abu
Sa’id ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
Tidaklah
suatu kelompok yang duduk berzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh para
malaikat. Mereka mendapat limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah
swt akan mengingat mereka dari seseorang yang diterima di sisi-Nya
(HR. Muslim dan Tirmidzi).
- Membaca
Al-Quran
Dalam Alquran Allah
swt menyatakan bahwa Alquran bisa menjadi penawar (obat) bagi hamba-Nya.
Sebagaimana firman-Nya:
dan Jikalau Kami jadikan Al
Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan:
"Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran)
dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran
itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang
tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu
kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat
yang jauh". (QS. Fushshilat: 44)
Ayat
ini menjadi dasar bahwa Alquran memang telah ditetapkan Allah swt sebagai
pendekatan pesan-pesan ilahiah yang berfungsi terapis kejiwaan sekaligus
pedoman hidup bagi hamba-Nya agar selalu berada di jalan kebaikan dan
kebenaran.
Membaca
Alquran disertai mentadabburi setiap bacaan ayat dapat membimbing jiwa agar
ikhlas beramal dan tawadhu dalam bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam Alquran. Sangat dianjurkan meluangkan waktu untuk membaca
Alquran setiap hari meski di tengah kesibukan. Apalagi meningkatkan kualitas
bacaannya di bulan suci Ramadhan. Selain memperoleh pahala puasa juga mendapat
keutamaan membaca Alquran di bulan maghfirah tersebut.
3. Pendidikan
Akhlak Dilihat dari Aspek Kejiwaan
a) Pengertian
pendidikan akhlak
Secara
etimologis akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata akhlaknya yang berarti menciptakan
seakan dengan kata khaliq (pencipta), makhaliq (yang diciptakan) dan khalq
(penciptaan). Kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup
pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan).
Secara
terminologis (ishthilabah) ada beberapa definisi tentang akhlak :
1) Imam
Al-Ghazali
Akhlak adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan
mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2) Ibrahim
Anis
Akhlak adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan.
3) Abdul
Karim Zaidan
Akhlak adalah nilai-nilai
dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang depan sorotan dan timbangannya
seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk.[12]
Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa akhlak ialah suatu sifat yang tertanam di dalam diri yang
menampilkan berupa perbuatan yang tidak dipertimbangkan sebelum dilakukan.
b) Pendidikan
akhlak dari aspek kejiwaan
Potensi
merupakan kekuatan/kemampuan diri yang telah dibawa manusia sejak lahir yang
perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal seperti
kemauan, aqidah, dan lain-lain, maupun faktor external seperti lingkungan,
pendidikan, dan lain-lain.
Allah telah menciptakan jiwa manusia lengkap dengan
potensi untuk berbuat baik dan buruk:
dan jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy-Syams: 7-8)
Pendidikan
akhlak sangat berperan penting dalam membina potensi jiwa manusia, mulai dari
lingkup pendidikan terkecil seperti keluarga sampai yang terbesar seperti
masyarakat.
Keluarga
merupakan lingkungan terkecil dalam struktur kehidupan bermasyarakat. Akan
tetapi meskipun menjadi lingkungan terkecil dalam masyarakat, keluarga adalah
lingkungan pertama dan utama tumbuh kembang seorang anak khususnya pembentukan
karakter yang tentunya juga akan menentukan akhlak dan moralnya kelak sebab
anak ibarat kertas kosong tergantung bagaimana orang tua dan keluarga anak
tersebut mengisi dan mewarnai jiwa anak tersebut.
Selain
keluarga, masyarakat juga tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi akhlak
serta moral yang dimiliki seorang anak. Sebuah ungkapan mengatakan
“hati-hatilah dalam memilih teman”, ungkapan ini memang betul karena jika kita
salah memilih pergaulan kita akan terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif
apalagi di zaman modernisasi saat ini.[13]
Dengan akhlak yang baik, segala
potensi yang dimiliki manusia, seperti ilmu pengetahuan, kekayaan, jabatan dan
potensi-potensi lainnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan
bersama (an-Nahl: 97).
Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan
beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.
Sebaliknya, dengan akhlak yang
buruk, segala potensi tersebut akan sia-sia, bahkan cenderung merusak (Thaahaa:
124-126).
dan
Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan
buta". berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku
dalam Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka
kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".[14]
Oleh
karena itu, walaupun jiwa kita memiliki potensi untuk menjadi baik atau buruk,
pontensi tersebut tetap harus digali, diarahkan, dan ditanamkan menuju ke
potensi yang baik dengan cara mendidik akhlak anak-anak dan memberikan contoh
tauladan yang baik.
C. Internalisasi Agama
1. Pengertian
Internalisasi Agama
Internalisasi
adalah pembinaan yang mendalam dan menghayati nilai-nilai religius (agama) yang
dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan secara utuh yang sasarannya menyatu
dalam kepribadian peserta didik, sehingga menjadikan peserta didik memiliki
satu karakter atau watak yang baik.
Internalisasi
yang dihubungkan dengan nilai-nilai agama Islam dapat diartikan sebagai suatu
proses memasukkan nilai-nilai agama Islam secara penuh ke dalam hati, sehingga
ruh dan jiwa bergerak berdasarkan ajaran agama. Internalisasi nilai agama
terjadi melalui pemahaman ajaran agama secara utuh, dan diteruskan dengan
kesadaran akan pentingnya agama Islam, serta ditemukannya posibilitas untuk
merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
2. Cara
Menanamkan Nilai-nilai Agama
Dalam
menanamkan nilai-nilai agama terdapat empat unsur penting di dalamnya yaitu
guru (pendidik), siswa (peserta didik), materi pelajaran, kegiatan-kegiatan
ekstrakulikuler kerohanian Islam dan metode pelaksanaannya. Semua unsur
tersebut saling terkait satu sama lain dalam upaya untuk menanamkan nilai-nilai
agama Islam secara optimal. Selain itu, faktor terpenting yang harus dilakukan
dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam adalah metode yang sesuai dalam
menyamaikan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.[15]
Menanamkan
nilai-nilai agama sedini mungkin merupakan bekal di kemudian hari untuk
membentengi diri dari pengaruh yang merusak moral sehingga anak menjadi
generasi yang berkualitas dengan bekal iman yang kuat.
Menurut
Abdullah Nashih Ulwan bahwa cara yang dilakukan untuk membina nilai-nilai
keagamaan atau agama Islam pada anak/peserta didik dapat melalui beberapa metode,
yaitu:
a) Metode
Pendidikan dengan Keteladanan (uswatun hasanah)
Keteladanan
dalam pendidikan adalah suatu metode influentif yang paling meyakinkan
keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual
dan sosial. Hal ini karena pendidik adalah contoh dalam pandangan anak dan akan
ditiru dalam tindak tanduknya, baik disadari ataupun tidak, bahkan tercetak
dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan
atau perbuatan baik yang bersifat material, inderawi atau spiritual karena
keteladanan merupakan salah satu faktor yang menentukan baik buruknya anak
didik.
Penelitian-penelitian
sosiologis telah membuktikan bahwa sikap beragama didatangkan oleh identifikasi
dengan sebuah suri tauladan. Kebanyakan orang meneruskan dalam hidupnya sendiri
gaya religius yang telah mereka terima dari orang tua mereka sendiri. Praktek
beragama dilestarikan dalam bentuk-bentuk yang pada dasarnya sama
turun-temurun.
Al-qur’an telah
menandaskan dengan tegas pentingnya contoh atau teladan dan pergaulan yang baik
dalam usaha membentuk kepribadian seseorang. Al-qur’an menyuruh manusia untuk
meneladani kehidupan Rasulullah saw dan menjadikan teladan yang utama.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab: 21 yang berbunyi:
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak
menyebut Allah.
Metode
ini merupakan metode yang paling unggul dan jitu dibandingkan metode-metode
yang lainnya. Melalui metode ini para orang tua, pendidik memberi contoh atau
teladan terhadap peserta didik bagaimana cara berbicara, berbuat, bersikap,
mengerjakan sesuatu atau cara beribadah dan lain sebagainya. Oleh karena itu,
Para orang tua dan pendidik hendaknya mengetahui dan menyadari bahwa pendidikan
keteladanan merupakan tiang penyangga dalam upaya meluruskan penyimpangan moral
dan perilaku anak.
b) Metode
Pendidikan dengan Adat Pembiasaan
Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan suci, bertauhid murni, beragama yang lurus dan beriman
kepada Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum: 30
yang berbunyi:
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.
Oleh
karena itu, perlu peran pembiasaan, pengajaran dan pendidikan dalam menumbuhkan
dan menggiring anak ke dalam tauhid murni, akhlak mulia, keutamaan jiwa dan
untuk melakukan syari’at yang lurus. Hal tersebut akan terlaksana dengan benar
jika didukung oleh dua faktor yaitu pendidikan Islam dan lingkungan yang baik.
Pengajaran
merupakan pendekatan melalui aspek teoritis dalam upaya memperbaiki anak,
sedangkan pembiasaan ialah segi praktek nyata dalam proses pembentukan dan
persiapannya. Masa anak-anak merupakan waktu yang tepat untuk memberikan pengajaran,
pembiasaan dan latihan, karena hal tersebut merupakan penunjang pokok
pendidikan dan sarana dalam upaya menumbuhkan keimanan anak dan meluruskan
moralnya.
c) Metode
Pendidikan dengan Nasihat
Nasihat merupakan
metode paling efektif untuk mendidik anak dalam upaya membentuk keimanan anak,
mempersiapkannya secara moral, psikis, sosial serta mengajarinya
prinsip-prinsip tentang Islam. Metode inilah yang paling sering digunakan oleh
para orang tua, pendidik, dan da’i terhadap anak/ peserta didik dalam proses
pendidikannya. Memberi nasihat sebenarnya merupakan kewajiban umat muslim
seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyaat: 55 yang berbunyi
dan janganlah
kamu Mengadakan Tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang
pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.
Supaya
nasihat dapat terlaksana dengan baik, maka dalam pelaksanaannya perlu
memperhatikan beberapa hal, yaitu:
1) Gunakan
kata dan bahasa yang baik dan sopan serta mudah dipahami.
2) Jangan
sampai menyinggung perasaan orang yang dinasihati atau orang sekitarnya.
3) Sesuaiakan
perkataan kita dengan umur, sifat dan tingkat kemampuan anak atau orang yang
kita nasihati. Perhatikan saat yang tepat dalam menasihati. Usahakan jangan
menasihati ketika kita atau yang dinasihati dalam keadaan marah.
4) Usahakan
ketika memberi nasihat tidak didepan orang banyak kecuali ketika pengajian atau
ceramah.
5) Beri
penjelasan, sebab atau kegunaan mengapa kita perlu member nasihat.
6) Untuk
lebih menegaskan, sertakan ayat-ayat al-qur’an, hadits, atau kisah para nabi,
para sahabat, atau orang-orang shalih.
Oleh
karena itu, orang tua atau pendidik apabila sedang berkumpul bersama
anak-anaknya hendaknya diisi dengan menceritakan kisah-kisah dan hikmah yang
berintikan nasihat dengan cara yang tidak membosankan dan bervariatif. Sehingga
tujuan membentuk rohani, jiwa, akhlak dan tingkah laku mereka tercapai.
d) Metode
Pendidikan dengan pengawasan
Pendidikan yang
disertai dengan pengawasan yaitu mendampingi anak dalam upaya membentuk akidah
dan moral anak. Islam dengan peraturan-peraturannya mendorong para orang tua
serta pendidik untuk selalu mengawasi dan mengontrol anak-anak dalam setiap
segi kehidupan dan setiap aspek kependidikan. Sebagaimana firman Allah SWT
dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim: 6 yang berbunyi:
Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Hal-hal
penting yang perlu diketahui dan disadari orang tua atau pendidik bahwa
pengawasan tidak terbatas pada satu atau dua aspek pembentukan jiwa saja tetapi
juga mencakup segi keimanan, intelektual, moral, fisik, psikis dan sosial
kemasyarakatan.
e) Metode
Pendidikan dengan Hukuman (sanksi)
Sesungguhnya
hukum-hukum syari’at yang lurus dan prinsip-prinsip yang universal bertujuan
memelihara kebutuhan-kebutuhan asasi yang harus dipenuhi manusia dan hidup
untuk mempertahankan prinsip-prinsip ini, maka para ulama mujtahid dan ushul
fiqih berpendapat bahwa kebutuhan-kebutuhan asasi tersebut ada lima yaitu:
memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara nama baik, memelihara akal dan
memelihara harta benda.
Untuk
memelihara semua itu, syari’at Islam memberi sanksi-sanksi terhadap orang yang
tidak mematuhinya. Adapun sanksi-sanksi umum, berikut ini adalah metode yang
diterapkan Islam dalam memberi sanksi terhadap anak, antara lain:
1) Menasihati
anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang (tanpa kekerasan).
2) Memberi
sanksi kepada anak yang salah
3) Mengatasi
dengan bertahap dari yang ringan sampai yang berat.
Jika
seorang pendidik menyadari bahwa memperbaiki kesalahan dengan satu cara tidak
membuahkan hasil, maka ia harus melangkah kepada sanksi yang lebih keras,
seperti dipukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika sanksi pukulan tidak
tidak mempan, maka sebaiknya sanksi harus diberikan dihadapan keluarga atau
temannya agar dia lebih cepat sadar (insyaf).[16]
3. Faktor
yang Mempengaruhi dalam Menanamkan Nilai Agama
Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek
rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang
direfleksikan ke dalam peribadatan kepada-Nya, baik yang bersifat haluminallah maupun habluminannas.
Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh
faktor-faktor pembawaan dan lingkungan.
a)
Faktor Pembawaan (Internal)
Fitrah beragama (taqwa) merupakan potensi yang mempunyai
kecendrungan untuk berkembang.
Sejak Nabi Adam sampai akhir zaman, menurut fitrah kejadiannya mempunyai
potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan atau percaya adanya kekuatan di
luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta. Hal ini
menunjukkan bahwa manusia itu memiliki fitrah untuk mempercayai suatu zat yang
mempunyai kekuatan baik memberikan Sesuatu yang bermanfaat maupun yang mudhorot (malapetaka).
Dalam perkembangannya, fitrah beragama itu ada yang berjalan
secara alamiah, dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para Rasul Allah SWT,
sehingga fitrahnya itu berkembang sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Keyakinan bahwa manusia itu mempunyai fitrah atau
kepercayaan kepada Tuhan didasarkan kepada firman Allah:
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?"
mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi".
(kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)", (QS. Al-A’raaf: 172)
Maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
(QS. Asy-Syams: 8)
b)
Faktor Lingkungan (Eksternal)
Faktor perkembangan itu tidak akan terjadi manakala tidak ada
faktor luar (eksternal) yang memberikan rangsangan atau stimulus yang
memungkinkan fitrah itu berkembang dengan sebaik-baiknya. Faktor eksternal itu
tiada lain adalah lingkungan dimana individu itu hidup. Lingkungan itu adalah
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keluarga sangat berperan penting dalam pengembangan
kesadaran beragama anak. Dalam Surat At-Tahrim: 6, menunjukan bahwa orangtua
mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan agama kepada anak dalam upaya
menyelamatkan mereka dari siksa api neraka. Diungkapkan pula dalam sebuah
hadist, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci),
orangtuanyalah yang menjadi anak itu yahudi, nasrani, atau majusi.
Keberadaan lingkungan sekolah Hurlock (1959) mempunyai
pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian anak, karena sekolah merupakan
substansi dari keluarga dan guru substansi dari orangtua.
Lingkungan masyarakat merupakan interaksi sosial dan
sosialkultural yang potensial berpengaruh terhadap perkembangan beragama anak.
Dengan adanya sentuhan atau interaksi dengan sesama di dalam sebuah sosial
kemasyarakatan dengan sendirinya kepribadian anak dipengaruhi oleh kebiasaan
atau adat masyarakat yang membangunnya.[17]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketiganya sangat berperan
penting dan memiliki keterkaitan yang erat terhadap kejiwaan seseorang yang
telah berkecimpung di masyarakat tempat dimana ia hidup agar anak tidak
terjerumus ke dalam lubang hitam maka perlu ditanamkan tauladan atau contoh
yang baik kepada anak sehingga anak dapat terarahkan pada hal-hal yang positif.
Dan dapat dilihat bahwa kualitas perkembangan kesadaran beragama anak sangat
bergantung kepada kualitas perilaku atau akhlak anak itu sendiri.
D. Kejiwaan Seseorang yang Memegang Teguh dan Menjalankan
Agamanya
Kondisi
umat Islam dewasa ini semakin diperparah dengan fnomena kehidupan yang dapat
menumbuhkembangkan sikap dan perilaku kepada suatu bentuk degradasi nilai-nilai
keimanannya. Fenomena yang cukup berpengaruh, di antaranya:
1. Tayangan
media televisi tentang cerita yang berifat kemusyrikan.
2. Gadget-gadget canggih yang dapat
menyebabkan akhlak bangsa tercoreng hanya karena terlalu sibuk dengan aktivitas
dunia maya disbanding ibadah kepada Allah swt.
3. Krisis
ketauladanan dari para pemimpin yang justru mereka banyak berperilaku
menyimpang dari nilai-nilai agama.
Sosok
pribadi orang Islam (seperti yang disebutkan diatas) tentu tidak menguntungkan
bagi umat itu sendiri karena akan menghambat kemajuan umat Islam dan bahkan
dapat memporakporandakan ikatan ukhuwah umat Islam itu sendiri.
Seharusnya,
agar umat Islam bangkit menjadi umat yang mampu mewujudkan misi Rahmatan lil
‘alamiin maka sudah sepatutnya mereka memiliki pemahaman secara Kaffah
tentang Islam itu sendiri. Selain itu, agah umat Islam tidak hanya memiliki
kekuatan dalam bidang Iman dan Taqwa, maka umat Islam juga harus membidangi
bidang Ilmu dan Teknologi, sehingga para kaum muslimin seantero jagad raya ini
tidak lamban dalam bidang teknologi dan tidak dibodohi oleh kaum yang ingin
menjajah umat Islam.
Di
samping umat Islam memperdalam agamanya, mereka diharapkan mampu
mengintegrasikan antara pengalaman ibadah kepada Allah dengan makna esensial
ibadah itu sendiri dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti
pengendalian diri, sabar, jujur, amanah, dab saling menghormati serta tidak
menyakiti orang lain. Dengan begitu, akan terbentuk Negara yang subur makmur
dan penuh pengampunan Allah swt.
Hal
inilah yang seharusnya tertanam pada setiap insan kaum Muslimin agar mereka
tetap memegang teguh dan menjalankan perintah-perintah-Nya sehingga dapat
mengantarkan kepada agama yang lurus, dan meraih kesuksesan pada Jannah-Nya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah
mengetahui kajian tentang pendidikan agama yang ditinjau dari aspek kejiwaan,
ternyata keduanya sangat berkaitan untuk mencapai keberhasilan dengan cara
memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Karena pendidikan tanpa
agama akan pincang, yaitu terjadi ketidak seimbangan antara moralitas dengan
pengetahuan yang dimiliki. Sehingga kebiasaan beragama dari usia dini akan
tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang.
Dalam
beberapa kajian yang telah dibahas, juga sangat berkaitan antara pendidikan
agama dengan aspek-aspek yang dibahas yakni pendidikan akidah, pendidikan
ibadah, dan pendidikan akhlak yang semuanya dilihat dari aspek kejiwaan.
Sehingga seseorang telah dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari
setelah melalui proses pendidikan karena sudah tertanam dalam dirinya
melahirkan kebiasaan dan akan semakin menambah keridhoan Allah swt kepada
hambanya ketika ia memperdalam agamanya.
Selanjutnya,
akan tertanamalah pendidikan agama tersebut dalam jiwa-jiwa yang diridhoi Allah
dan dapat terinternalisasi ke dalam dirinya sehingga akan semakin bertambah
ketakwaan seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.
Dengan
begitu, setiap diri manusia akan memegang teguh dan menjalankan perintahNya
sehingga dapat mengantarkannya kepada agama yang lurus dan meraih kesuksesan
pada Jannah-Nya.
B. Saran
Berdasarkan pada pembahasan dan
kesimpulan, maka penulis mengharapkan agar setiap individu semakin dekat dengan
al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga pendidikan yang diperoleh menghasilkan suatu
terjadinya relevansi yang kuat, karena hal itu merupakan tuntunan dan pedoman
hidup bagi umat Islam agar tertanam suatu proses internalisasi dalam diri
manusia yang semakin menambah ketakwaan kepada sang Maha Pencipta dan
mendapatkan ridho Allah swt.
DAFTAR
PUSTAKA
as
Sadr, Sayyid Mahdi. Saling Memberi Saling Menerima: Kiat-Kiat Sukses
Menjalin Hubungan dalam Hidup. Jakarta: Pustaka Zahra. 2003.
Fithriyah,
Eviy Aidah. Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Terhadap TIngkah Laku
Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Kerohanian Islam di MAN Malang I. UIN
Maulana Malik Ibrahim: Malang. 2009. SKRIPSI
Hafidhuddin,
Didin. Islam Aplikatif. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
Hery
Nugroho (NIM: 105112084). Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan
Agama Islam di SMA Negeri 3 Semarang. (IAIN Walisongo: Semarang. 2012.
SINOPSIS TESIS
Salih
bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan. Kitab Tauhid I. Jakarta: Yayasan Al-
Sofwa. 2000.
Thib
Raya, Ahmad dan Siti Musdah Mulia. Menyelami Seluk-Beluk Ibadah dalam
Islam. Jakarta Timur: Kencana. 2003.
Zuhairini,
dkk,. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.
http://aariefr.blogspot.com/2012/05/internalisasi-nilai-agama-dan-faktor.html
diakses pada tanggal 12 April 2014 pukul 12:47 WIB
http://dahare.blogspot.com/2012/03/internalisasi-iman-terhadap-anak-sejak.html diakses pada tanggal 24 April 2014
pukul 4:51 WIB
http://id.scribd.com/doc/51541205/Pengertian-Pendidikan-Agama-Islam-menurut-berbagai-pakar diakses pada tanggal 16 april 2014
pukul 12:47 WIB.
http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2012/06/makalah-akhlak.html Diakses pada tanggal 13 Maret 2014
http://spupe07.wordpress.com/2012/01/01/kaitan-psikologi-agama-dengan-pendidikan-islam/ diakses pada tanggal 24 April 2014
pukul 2:49 WIB
http://www.syarifshare.info/2012/06/makalah-pe
ndidikan-aqidah-akhlak-moral.html
Diakses pada tanggal 12 April 2014 pukul 12:47 WIB.
[1] Hery Nugroho (NIM: 105112084), Implementasi
Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 3 Semarang,
(IAIN Walisongo: Semarang), 2012, hlm 11. SINOPSIS TESIS yang diajukan sebagai
Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam Konsentrasi Pendidikan
Islam.
[2] http://id.scribd.com/doc/51541205/Pengertian-Pendidikan-Agama-Islam-menurut-berbagai-pakar diakses pada tanggal
16 april 2014 pukul 12:47 WIB.
[3] http://spupe07.wordpress.com/2012/01/01/kaitan-psikologi-agama-dengan-pendidikan-islam/ diakses pada tanggal 24 April 2014
pukul 2:49 WIB
[4] Salih bin fauzan bin Abdullah Al
Fauzan. Kitab Tauhid I (Cet: Ke-2 Yayasan Al-Sofwa Jakarta, 2000) Hal.
3.
[5] http://www.syarifshare.info/2012/06/makalah-pendidikan-aqidah-akhlak-moral.html Diakses pada tanggal
12 April 2014 pukul 12:47 WIB.
[6] DR. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam
Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press), 2003, hlm 230-231.
[7] http://dahare.blogspot.com/2012/03/internalisasi-iman-terhadap-anak-sejak.html diakses pada tanggal 24 April 2014
pukul 4:51 WIB
[8] Dra Zuhairini, dkk, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 2008, Hlm. 158.
[9] Ahmad Thib Raya dan
Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk-Beluk Ibadah dalam Islam,
(Jakarta Timur: Kencana), 2003, hlm 137.
[10] Sayyid Mahdi as
Sadr, Saling Memberi Saling Menerima: Kiat-Kiat Sukses Menjalin Hubungan
dalam Hidup, (Jakarta : Pustaka Zahra), 2003, hlm 6.
[11] DR. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam
Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press), 2003, hlm 231-232.
[12] http://senyumkudakwahku.blogspot.com/2012/06/makalah-akhlak.html Diakses pada tanggal 13 Maret 2014
[13] http://www.syarifshare.info/2012/06/makalah-pe
ndidikan-aqidah-akhlak-moral.html Diakses pada tanggal 12 April 2014 pukul
12:47 WIB.
[14] DR. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam
Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press), 2003, hlm 216-217
[15] Eviy Aidah Fithriyah, Internalisasi
Nilai-nilai Agama Islam Terhadap TIngkah Laku Siswa Melalui Kegiatan
Ekstrakulikuler Kerohanian Islam di MAN Malang I, (UIN Maulana Malik
Ibrahim: Malang), 2009, SKRIPSI
[16] Ibid. Dikutip dari tulisan
Abdullah Nashih Ulwan dengan judul buku “Pendidikan Anak Menurut Islam
Kaidah-Kaidah Dasar“ (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 1-162
[17] http://aariefr.blogspot.com/2012/05/internalisasi-nilai-agama-dan-faktor.html diakses pada tanggal 12 April 2014
pukul 12:47 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar