terkadang aku malu
pada diri ini yang belum bisa berbuat sesuatu yang baik.
melahirkan insan yang penuh dengan ketakwaan dan keimanan pun masih dasar, bahkan masih minus. (ya Allaah)
karena, dalam kesehariannya pun aku masih belum banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padaku.
dalam diri sendiri pun masih terlalu sering mendzaliminya.
dzalim saat lapar dan haus, diterobos dengan aktivitas yang nilainya hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia.
dzalim saat diri ini membutuhkan ilmu agama, diterobos dengan aktivitas yang hanya banyak mengobrol dan canda tawa bersama teman-teman.
dzalim saat diri ini masih saja malas dengan pekerjaan rumah, diterobos dengan banyaknya menonton televisi dan main asyik bersama layar handphone.
ya allaah, terlalu banyak waktu yang kusia-siakan...
terkadang aku malu
kepada mereka yang selalu punya waktu banyak untuk keluarga mereka.
kepada mereka yang rajin membantu pekerjaan orangtuanya di rumah.
kepada mereka yang punya waktu untuk banyak berinteraksi dengan al quran dan buku yang mendalami ilmu pengetahuan.
kepada mereka yang setiap pekannya memiliki waktu untuk mendengarkan dan bercengkrama akrab adik-adik binaannya
aku malu, malu..
karena waktu luangku habis hanya untuk memikirkan kenangan-kenangan yangterjadi di masa lalu.
kenangan yang indah walaupun menyakitkan.
kenangan yang buruk dan mendapatkan teguran walaupun itu demi kebaikan.
seharusnya aku sadar bahwa kenangan yang tak akan pernah hadir kembali, hanya dapat dijadikan guru dalam perjalanan hidup ke depannya.
terkadang aku malu
kepada diri ini, yang pernah melakukan hal-hal yang memang seharusnya tidak dilakukan.
tapi aku tahu, bahwa semua itu adalah titik pelajaran yang dapat diambil untuk tidak diulangi kembali.
dan terkadang aku malu
kepada mereka yang selalu banyak bercerita dengan banyak bersujud kepada-Nya dibandingkan dengan meminta bahu orang lain untuk bercerita.
aku malu...
pada diri ini yang belum bisa berbuat sesuatu yang baik.
melahirkan insan yang penuh dengan ketakwaan dan keimanan pun masih dasar, bahkan masih minus. (ya Allaah)
karena, dalam kesehariannya pun aku masih belum banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah padaku.
dalam diri sendiri pun masih terlalu sering mendzaliminya.
dzalim saat lapar dan haus, diterobos dengan aktivitas yang nilainya hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia.
dzalim saat diri ini membutuhkan ilmu agama, diterobos dengan aktivitas yang hanya banyak mengobrol dan canda tawa bersama teman-teman.
dzalim saat diri ini masih saja malas dengan pekerjaan rumah, diterobos dengan banyaknya menonton televisi dan main asyik bersama layar handphone.
ya allaah, terlalu banyak waktu yang kusia-siakan...
terkadang aku malu
kepada mereka yang selalu punya waktu banyak untuk keluarga mereka.
kepada mereka yang rajin membantu pekerjaan orangtuanya di rumah.
kepada mereka yang punya waktu untuk banyak berinteraksi dengan al quran dan buku yang mendalami ilmu pengetahuan.
kepada mereka yang setiap pekannya memiliki waktu untuk mendengarkan dan bercengkrama akrab adik-adik binaannya
aku malu, malu..
karena waktu luangku habis hanya untuk memikirkan kenangan-kenangan yangterjadi di masa lalu.
kenangan yang indah walaupun menyakitkan.
kenangan yang buruk dan mendapatkan teguran walaupun itu demi kebaikan.
seharusnya aku sadar bahwa kenangan yang tak akan pernah hadir kembali, hanya dapat dijadikan guru dalam perjalanan hidup ke depannya.
terkadang aku malu
kepada diri ini, yang pernah melakukan hal-hal yang memang seharusnya tidak dilakukan.
tapi aku tahu, bahwa semua itu adalah titik pelajaran yang dapat diambil untuk tidak diulangi kembali.
dan terkadang aku malu
kepada mereka yang selalu banyak bercerita dengan banyak bersujud kepada-Nya dibandingkan dengan meminta bahu orang lain untuk bercerita.
aku malu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar