Laman

Jumat, 17 Oktober 2014

Saudariku...

Ketika kamu mendapatkan rezeki dari Allah swt., aku yakin Allah juga memberi ujian terhadap makhluknya.
Ketika kamu mendapatkan kebahagiaan, aku yakin Allah juga memberi kamu kesedihan.
Ketika kamu mendapatkan kemudahan, aku yakin Allah juga memberi kamu kesulitan.

Allah swt sudah menggariskan hal ini jauh sebelum manusia diciptakan.
Allah swt juga memberikan ini semua untuk makhluknya yang mampu melewati apa yang terjadi dengan shabar.

Ini tentang cerita seseorang yang sangat dekat.
Saudari tersayang..
Allah memberikan ujian berupa rezeki yang memang tidak selamanya berada di tanganmu. Lewat makhluk ciptaan-Nya yang lain, dia seorang lelaki tua yang sudah tidak remaja, juga sepertinya jauh dari agama, dia rela mengerjakan pekerjaan tidak halal untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Dengan Percaya Diri membawa azzam mendapatkan korban, dia melancarkan misinya dalam sebuah angkutan umum. Hasilnya?
Ada seorang yang terpedaya dan akhirnya terkelabui sehingga barang elektronik yang ia miliki raib alias sudah pindah tangkan ke orang tua tadi. Astaghfirullah.
Sebenarnya, seberapa berhargakah barang elektronik tersebut? (red: Handphone) Ya, berharga sekali. Karena saudariku membelinya dengan hasil tabungan keuntungan menjualkan pulsa selama berbulan-bulan. Mungkin, memang itu rezeki bagi orang tua itu walau tidak halal ia mendapatkannya.
Tapi, ada hal positif yang dapat diambil...Saudariku sudah memaafkan kejadian tersebut.
Alhamdulillaah.

Saudariku yang Allah cintai..
Allah memberikan gantinya yang jika dipirkan oleh logika manusia, sungguh tidak terpikirkan!
Banyak orang yang sayang terhadapmu, yaitu kawan-kawan ODOJ. Mereka mencari cara supaya kamu bisa kembali. Sungguh, ini adalah kuasa Allah. Mereka mengumpulkan dana untuk menambah biaya membeli HP kembali. Setelah kurang lebih dua pekan berlalu, engkau bisa membeli HP baru yang tentunya ada amanah di dalamnya.
Alhamdulillaah.

Saudariku yang paling tersayang.
Jagalah amanah tersebut untuk digunakan dengan sebaik-baiknya termasuk dakwah di jalan-Nya, juga semakin semangat tilawahnya ya :)

Rabu, 28 Mei 2014

izzah



Bismillahirrahmaanirraahiim

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain sesuai dengan fitrahnya. Yakni kita butuh bergaul, butuh teman, bersenda gurau, dan yang lainnya. Yang menjadi masalah adalah penjagaan diri kita terhadap yang bukan mahramnya. Dengan kita banyak berinteraksi dengan lawan jenis, maka harus banyak pula kita menjaga diri kita, menjaga izzah kita.
Izzah ialah sebuah harga diri yang mulia dan agung, karenanya harus ada menghiasi setiap relung jiwa seorang Muslim, apalagi Muslimah. Izzah adalah kehormatan perempuan sebagai seorang muslimah.
Memang, banyak teman yang mengatakan sulit dalam pelaksanaannya. Misalnya, berjabat tangan.
Seorang temanku, panggil dia Ani. Dia bersalaman dengan lawan jenisnya, panggil dia Andi. Memang, Andi duluan yang menyodorkan tangannya untuk salaman. Dan diterima oleh Ani. Alhasil, mereka berjabat tangan. Padahal mereka bukan mahramnya. Selain mereka, ada teman yang melihatnya, ikhwan, panggil saja dia Ahmad. Dia menegur Ani, “Kan antum seorang wanita, yang mengerti agama, mana izzahnya?”
Ani yang mendengarnya langsung ber-Istighfar.

Nah, hal kecil seperti ini harus diperhatikan. Apalagi jika kita berada dalam lingkungan Islami, latar pendidikan yang Islami pula, belajar mengenai agama, materi pelajaran tentang agama pula.
Disini, penulis tidak bermaksud untuk sok alim dan apalah itu..
Tapi hanya sedikit risih melihatnya.
Sadarkah hai Muslimah, bahwa izzah mu sangat berharga? Seharusnya, perjuangkan ia dalam kenyataan di duniawimu. Benar, menjaga ukhuwah itu penting. Tapi apakah harus mengorbankan izzah mu terhadap yang bukan mahrammu? Dengan berjabat tangan seperti itu?
Ya Allaah…
Masya Allaah…
Harus sabar…

***

Insyaa Allah, dengan perlahan…jika kita memulai untuk menjaganya, maka Allah pun akan menjaga kita..
Semoga, Allah selalu melindungi kita, para Muslimah, dalam menjaga izzah kita. Aamiin.

Selasa, 27 Mei 2014

Perlahan, Insyaa Allah ada Hasil



Menjaga Diri Mesti Didahulukan Daripada Orang Lain

Tarbiyah seorang Muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindungi dirinya dari siksa Allah swt dan neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, bahwa menjaga diri sendiri itu mesti lebih diutamakan daripada menjaga orang lain. Ini sama persis dengan apa yang dikerjakan seseorang jika kebakaran terjadi di rumahnya, semoga hal itu tidak terjadi, atau di rumah orang lain, maka yang pertama kali ia pikirkan ialah menyelamatkan diri sendiri.
Hakikat ini ditegaskan oleh firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Q.S. At-Tahrim: 6)
Arti menjaga diri dari neraka, seperti dikatakan oleh Ibnu Sa’di –Rahimahullah- ialah dengan mewajibkan dirinya mengerjakan perintah Allah swt, menjauhi larangan-Nya dan bertaubat dari apa yang dimurkai dan mendatangkan siksaan-Nya.
Inilah makna Tarbiyah Dzatiyah dan salah satu tujuannya.

Jika Anda Tidak Mentarbiyah (membina) diri Anda, siapa yang akan mentarbiyah Anda?

Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun atau lebih? Sebenarnya, bila seseorang tidak mentarbiyah dirinya sendiri, maka tidak ada orang lain yang akan mentarbiyah atau mempengaruhinya? Ini karena orang tuanya secara khusus, atau manusia pada umumnya, berkeyakinan bahwa ia telah dewasa, leibh tau apa yang lebih mendatangkan kemaslahatan dirinya atau mereka (orang tua dan manusia lainnya) sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusinya. Walhasil jika ia tidak mentarbiyah dirinya sendiri, maka ia akan kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus mengalir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dan ketidakberesan dirinya, atau berusaha ke arah kesempurnaan manusiawi yang ia cari. Akibatnya, ia merugi pada saat kematian menjemput. Allah swt berfirman:
“Ingatlah hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan (untuk dihisab)” (Q.S. At-Taghabun: 9)


***

Itu adalah 2 urgensi Sarana Tarbiyah Dzatiyah 

--> dan hal yang paling dirasa saat ini ialah, berSYUKUR, berUNTUNG bisa mengenal, masuk, mengetahui, berada di dalam Tarbiyah ini.
Ini semua berjalan dengan sendirinya..
Dan aku bersyukur karena Allah menuntun dan membimbingku untuk berada di jalan ini...
Perlahan dan berjalan hingga sekarang, aku berada di Tarbiyah ini...sungguh ini adalah doa yang pernah terucap dalam hati maupun lisan..
Karena merasakan ada perubahan yang membuat diri ini nyaman..
Baru tersadar ketika disaat terakhir pertemuan, murabbi berkata, #KiraKiraBegini "Tidak terasa yaa, tapi lama kelamaan ada perubahannya. Mulai dari kerudungnya yang tidak tipis, akhlaknya juga semakin diperbaiki,......"
Walaupun awalnya hanya seorang diri yang masuk ke dalam Tarbiyah, perlahan...saudara kembaran juga ikut.
Mentarbiyah diri sendiri berjalan dari awal mengenalnya hingga sekarang, mengajak saudara kembaran juga berjalan setelah mengenalnya...sekarang giliran orangtua yang kuajak untuk mengenalnya..
Walaupun rasanya jika dipikirkan sangat sulit, tapi YAKIN, hal-hal yang kecil insyaa Allah bisa. Setidaknya, jika tidak seperti yang diinginkan, tapi tetap Islami.

Semangaat :)

Selasa, 20 Mei 2014

Surat Imam Ghozali Kepada Salah Satu Murid



Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.

Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu."

Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.

Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, "Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata".

Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.

www. Eramuslim.com

Sabtu, 26 April 2014

Pendidikan Agama dari Aspek Kejiwaan



PENDIDIKAN AGAMA DARI ASPEK KEJIWAAN
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Ujian Tengah Semester pada mata kuliah Ilmu Jiwa Belajar II

Disusun Oleh:
Lilis Muslicha – 12214210410
Kelas PAI 4B


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TARBIYAH
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR
2014 M / 1435 H

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT., atas berkat, rahmat dan limpahannya. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang patut kita jadikan pegangan bagi seluruh umat manusia.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan semangat motivasi dalam membuat tulisan ini dari awal hingga selesai. Berkat dorongan itulah, yang membuat saya semakin terdorong untuk menyelesaikannya tepat pada waktunya.
Tulisan yang berjudul "Pendidikan Agama dari Aspek Kejiwaan" ini diajukan  untuk memenuhi nilai Ujian Tengah Semester mata kuliah Ilmu Jiwa Belajar 2 yang diajar oleh Ibu Santi Lisnawati.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tulisan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan yang lebih lanjut, akan saya terima dengan senang hati.
Terima kasih. Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.




Bogor, 20 April 2014



Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
B.    Rumusan Masalah.................................................................................... 1
C.    Tujuan Penulisan...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.     Pendidikan Agama Ditinjau dari Aspek Kejiwaan............................. 3
1.    Pengertian Pendidikan Agama.......................................................... 3
2.    Ditinjau dari Aspek Kejiwaan.............................................................. 4
B.    Kajian yang Terkandung dalam Wilayah Pendidikan Agama....... 5
1.    Pendidikan Aqidah Dilihat dari Aspek Kejiwaan............................ 5
2.    Pendidikan Ibadah Dilihat dari Aspek Kejiwaan............................. 8
3.    Pendidikan Akhlak Dilihat dari Aspek Kejiwaan............................. 11
C.    Internalisasi Agama.................................................................................. 14
1.    Pengertian Internalisasi Agama......................................................... 14
2.    Cara Menanamkan Nilai-nilai Agama............................................... 15
3.    Faktor yang Mempengaruhi dalam Menanamkan Nilai Agama... 20
D.    Kejiwaan Seseorang yang Memegang Teguh dan Menjalankan
Agamanya................................................................................................... 22
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan................................................................................................. 24
B.    Saran............................................................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 26

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya adalah untuk mengembangkan sumber daya manusia dengan adanya pembelajaran. Melalui pendidikan agama, bimbingan yang dilakukan seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan tentunya didasarkan pada nilai-nilai Islam dan berisikan ajaran Islam. Pendidikan agama juga berpengaruh dari aspek kejiwaan yakni menanamkan nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang sehingga tercapai suatu keberhasilan seorang pendidik dalam memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Karena pendidikan tanpa agama akan pincang, yaitu terjadi ketidakseimbangan antara moralitas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, ada beberapa aspek yang dapat menunjang keberhasilan pendidikan, yaitu memberikan pendidikan akidah atau kepercayaan mengenai agama Islam kepada peserta didik, memberikan tauladan yang baik dengan mencontohkan akhlak yang sesuai dengan syari’at Islam, dan dikuatkan dengan banyak beribadah kepada Allah swt., serta menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik. Sehingga tertanamlah pada setiap diri individu yang berasaskan Islami.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik untuk membuat tulisan mengenai kejiwaan seseorang melalui pendidikan agama. Tulisan ini yang diberi judul ”Pendidikan Agama dari Aspek Kejiwaan”

B.    Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian pendidikan agama ditinjau dari aspek kejiwaan?
2.    Jelaskan kajian apa sajakah yang termasuk dalam wilayah pendidikan agama.
3.    Bahasan apa sajakah yang terkandung ke dalam Internalisasi Agama?
4.    Bagaimanakah kejiwaan seseorang yang memegang teguh dan menjalankan agamanya?

C.    Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui pengertian pendidikan agama yang ditinjau dari aspek kejiwaan.
2.    Menjelaskan kajian-kajian yang terkandung dalam wilayah pendidikan agama.
3.    Membahas mengenai hal-hal yang terkandung ke dalam Internalisasi Agama.
4.    Mengetahui kejiwaan seseorang yang memegang teguh dan menjalankan agamanya.
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pendidikan Agama Ditinjau dari Aspek Kejiwaan
1.    Pengertian Pendidikan Agama
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan (Pasal 1 ayat 1).
Sementara itu pengertian lebih spesifik tentang Pendidikan Agama Islam, yakni sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik di sekolah.[1]
Adapun menurut beberapa pendapat ahli mengenai pengertian pendidikan agama Islam yaitu:
a)    Pendidikan agama Islam menurut Yusuf al-Qardhawi adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu, pendidikan agama Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
b)    Pendidikan agama Islam menurut Zakiah Darajat adalah Pendidikan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan itu iadapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.[2]
Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim yang sejati dan tentunya didasarkan pada nilai-nilai Islam dan berisikan ajaran Islam
2.    Ditinjau dari Aspek Kejiwaan
Hubungan psikologi agama dan pendidikan Islam sangat terkait dengan tujuan pendidikan yakni menanamkan nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang, menurut Menurut Quraish Shihab, tujuan pendidikan al Qur`an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al Qur`an, untuk bertaqwa kepada -Nya.
Untuk mencapai keberhasilan itu seorang pendidik perlu memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Pendidikan tanpa agama akan pincang, yaitu terjadi ketidakseimbangan antara moralitas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Seperti dicontohkan ada anak yang menguasai teknologi komputer karena tidak dibarengi oleh jiwa keagamaan maka pengetahuannya dipakai mencuri uang di bank. Sebaliknya pengetahuan keagamaan tanpa dibarengi manajemen pendidikan yang baik maka akan percuma. Pendidikan dinilai punya peran penting dalam menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. Pembinaan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang diperoleh sejak kecil. Kebiasaan itu tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang.[3]

B.    Kajian yang Terkandung dalam Wilayah Pendidikan Agama
1.    Pendidikan Aqidah Dilihat dari Aspek Kejiwaan
a)    Pengertian pendidikan aqidah
Aqidah berasal dari bahasa arab yaitu “Aqada” yang berarti ikatan atau simpulan. Aqidah secara etimologi berasal dari kata ‘aqd yng berarti pengikatan. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya.
Aqidah secara syara’ yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.[4]
b)    Pendidikan aqidah dilihat dari aspek kejiwaan
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa aqidah merupakan kepercayaan  yang terikat dalam jiwa seseorang, maka tentunya dapat dipastikan bahwa benar tidaknya aqidah yang dianut seseorang juga akan ikut mempengaruhi kejiwaan orang tersebut.
Pada awal-awal masa perjuangan Rasulullah SAW untuk menyebarkan agama Islam di kota Mekkah, hal pertama yang ditanamkan oleh Rasulullah adalah pelurusan aqidah para penduduk kota Mekkah.
Hal tersebut tercermin dari banyaknya ayat-ayat yang berhubungan dengan aqidah khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan meng-Esakan Allah.
Pelurusan aqidah tersebut bertujuan untuk membentuk pribadi dan jiwa para kaum muslimin agar tidak mudah goyah dan tetap berpegang teguh kepada ajaran agama Allah, yakni mampu membentuk sikap dan tingkah laku keseharian seseorang, diantaranya sebagai berikut:
1)    Ketenangan jiwa
Orang yang memiliki aqidah yang kuat akan memiliki ketenangan jiwa, sebab ia telah percaya bahwa apa yang ia dapatkan di dunia ini baik itu sesuatu yang indah maupun sesuatu yang buruk semuanya telah diatur oleh Allah, dan ia telah paham bahwa dunia ini hanyalah sementara hanya tempat persinggahan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya menuju tempat tujuan akhir yang abadi yaitu akhirat.
2)    Kesiapan Diri dalam Menghadapi Masalah
Ketika aqidah seseorang telah mantap, ia akan sadar bahwa seluruh musibah yang menimpanya pada hakikatnya merupakan bukti rasa cinta Allah kepadanya yang sekaligus menjadi jalan untuk meningkatkan level keimanannya.[5]
3)    Meluruskan akidah dan membersihkannya dari berbagai perilaku syirik. Iman yang benar dan kuat akan melahirkan kesadaran yang tinggi untuk beribadah kepada-Nya (an-Nuur: 51) dan memberikan kemanfaatan kepada masyarakatnya.
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
Sedangkan akidah yang rusak yang penuh dengan syirik akan melahirkan kegelisahan dan kegoncangan dalam hidup.
dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS. al-Hajj: 31).[6]
Imam Ghazali juga menjelaskan dalam kitab Al-Ihya’ Ulumuddin cara menanamkan aqidah pada anak-anak. Beliau mengatakan, ”Cara menamkan keyakinan ini bukanlah dengan mengajarkan keterampilan berdebat dan berargumentasi, akan tetapi caranya adalah menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan tafsirnya, membaca hadits dan makna-maknanya serta sibuk dengan tugas ibadah. Dengan demikian, kepercayaan dan keyakinan anak akan terus bertambah kokoh sejalan dengan semakin seringnya dalil-dalil Al-Qur’an yang didengar olehnya dan juga sesuai dengan berbagai bukti dari hadits Nabi yang ia telah dan berbagai faedah yang bisa ia petik darinya. Ini ditambah lagi oleh cahaya-cahaya ibadah dan amalan-amalan yang dikerjakannya yang akan semakin memperkuat itu semua”.[7]
Oleh karena itulah jika ditinjau dari segi kejiwaan pendidikan aqidah semestinya harus dilakukan sedini mungkin, sebab sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa aqidah merupakan elemen penting dalam agama khususnya Islam bahkan dapat dikategorikan sebagai salah satu pondasi yang sangat fundamental dalam Islam dan agar pendidikan anak yang merupakan amanat dari Allah swt bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.

2.    Pendidikan Ibadah Dilihat dari Aspek Kejiwaan
a)    Pengertian pendidikan ibadah
Ibadah yang secara awam diartikan sesembahan, pengabdian, sebenarnya adalah istilah yang paling luas dan mencakup tidak hanya penyembahan, tetapi juga berhubungan dengan laku manusia meliputi kehidupan. Yang paling beradab, dari segi pandangan spiritual, adalah mereka yang mematuhi dengan sangat rapat kemauan Tuhan, di dalam semua perbuatan-perbuatan mereka.[8] Yaitu tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan-Nya untuk mendapatkan keridhoan Allah swt.
Dari segi bahasa, ibadah berarti taat, tunduk, menurut, mengikuti, dan doa.[9] Sedangkan secara terminologi, ibadah berarti melaksanakan perintah-perintah Allah secara baik.[10]
Dapat disimpukan bahwa pendidikan ibadah adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridhaan Allah serta menundukan jiwa kepada-Nya.
b)    Pendidikan ibadah dilihat dari aspek kejiwaan
Pada hakikatnya ibadah merupakan cara untuk menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk ciptaan Allah. Sebagaimana firman Alla swt.
dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Az-Zariyat: 56)
Tidak ada yang disebah dan tempat mengabdi kecuali kepada-Nya. Seluruh hidupnya baik yang bersifat jiwa maupun raga sepenuhnya hanya diserahkan kepada Tuhan seluruh alam, dengan cara mematuhi perintah-Nya dan mencegah larangan-Nya.
Dengan banyak beribadah kepada Allah swt. dalam mendapatkan keridhoan-Nya, maka akan tertanam dalam diri manusia suatu keyakinan untuk tetap mengabdi kepada Allah swt. dan terhindar dari segala penyimpangan-penyimpangan yang dapat merusak diri manusia itu sendiri pada pengabdiannya kepada-Nya. Oleh karena itu, dengan terealisasikannya ibadah kepada Allah swt., maka semangat hidup akan semakin membara dan terpatri dalam jiwa seseorang untuk mendapatkan keridhoan Allah swt.
Selain itu, ada beberapa hal yang dapat dilihat dari aspek kejiwaan setelah seseorang ibadah kepada Sang Pencipta. Diantaranya adalah:
1)    Berusaha beribadah yang benar sesuai dengan syariat Islam, sambil berusaha pula menghayati hikmah, kandungan dan manfaatnya. Ibadah puasa misalnya, adalah ibadah yang mengandung berbagai hikmah dan manfaat, seperti: belajar mengendalikan diri (dalam segala hal), latihan keikhlasan dalam beramal, latihan merasakan kehadiran Allah swt. sebagai Zat Yang Maha Mengetahui segala amal perbuatan, latihan menumbuhkan kasih sayang kepada kaum dhuafa (golongan yang lemah) dan latihan menumbuhkan kesadaran ukhuwah dan berjamaah. Ibadah zakat, membuktikan rasa syukur kepada Allah swt., membersihkan dan menyucikan serta mengembangkan harta, sumber dana pembangunan umat, menghilangkan kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin.[11]
2)    Zikir dan Membaca Al-Quran
Setiap hamba mendambakan ketenangan dan ketentraman jiwa dalam menjalani kehidupan ini. Harapan demikian dapat dicapai dengan mendekatkan diri kepada sumber dari segala ketenangan dan ketentraman yakni Allah Azza wa jalla. Sering menyebut, memuja dan mengingat asma-Nya di dalam hati maka jiwa akan tenang. Adapun bentuk ibadah yang dimaksud adalah zikir dan membaca Alquran.
-       Zikir
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’ad: 28)
Alquran menjelaskan begitu penting melakukan zikrullah (berzikir kepada Allah) untuk ketentraman hati hamba-Nya yang beriman. Hal ini diperjelas oleh Rasulullah saw. dalam hadits Beliau. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Dan Abu Sa’id ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
Tidaklah suatu kelompok yang duduk berzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Mereka mendapat limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah swt akan mengingat mereka dari seseorang yang diterima di sisi-Nya (HR. Muslim dan Tirmidzi).
-       Membaca Al-Quran
Dalam Alquran Allah swt menyatakan bahwa Alquran bisa menjadi penawar (obat) bagi hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (QS. Fushshilat: 44)
Ayat ini menjadi dasar bahwa Alquran memang telah ditetapkan Allah swt sebagai pendekatan pesan-pesan ilahiah yang berfungsi terapis kejiwaan sekaligus pedoman hidup bagi hamba-Nya agar selalu berada di jalan kebaikan dan kebenaran.
Membaca Alquran disertai mentadabburi setiap bacaan ayat dapat membimbing jiwa agar ikhlas beramal dan tawadhu dalam bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran. Sangat dianjurkan meluangkan waktu untuk membaca Alquran setiap hari meski di tengah kesibukan. Apalagi meningkatkan kualitas bacaannya di bulan suci Ramadhan. Selain memperoleh pahala puasa juga mendapat keutamaan membaca Alquran di bulan maghfirah tersebut.

3.    Pendidikan Akhlak Dilihat dari Aspek Kejiwaan
a)    Pengertian pendidikan akhlak
Secara etimologis akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata akhlaknya yang berarti menciptakan seakan dengan kata khaliq (pencipta), makhaliq (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan). Kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan).
Secara terminologis (ishthilabah) ada beberapa definisi tentang akhlak :
1)    Imam Al-Ghazali
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
2)    Ibrahim Anis
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan.
3)    Abdul Karim Zaidan
Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang depan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk.[12]
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak ialah suatu sifat yang tertanam di dalam diri yang menampilkan berupa perbuatan yang tidak dipertimbangkan sebelum dilakukan.
b)    Pendidikan akhlak dari aspek kejiwaan
Potensi merupakan kekuatan/kemampuan diri yang telah dibawa manusia sejak lahir yang perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal seperti kemauan, aqidah, dan lain-lain, maupun faktor external seperti lingkungan, pendidikan, dan lain-lain.
Allah telah menciptakan jiwa manusia lengkap dengan potensi untuk berbuat baik dan buruk:
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy-Syams: 7-8)
Pendidikan akhlak sangat berperan penting dalam membina potensi jiwa manusia, mulai dari lingkup pendidikan terkecil seperti keluarga sampai yang terbesar seperti masyarakat.
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam struktur kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi meskipun menjadi lingkungan terkecil dalam masyarakat, keluarga adalah lingkungan pertama dan utama tumbuh kembang seorang anak khususnya pembentukan karakter yang tentunya juga akan menentukan akhlak dan moralnya kelak sebab anak ibarat kertas kosong tergantung bagaimana orang tua dan keluarga anak tersebut mengisi dan mewarnai jiwa anak tersebut.
Selain keluarga, masyarakat juga tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi akhlak serta moral yang dimiliki seorang anak. Sebuah ungkapan mengatakan “hati-hatilah dalam memilih teman”, ungkapan ini memang betul karena jika kita salah memilih pergaulan kita akan terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif apalagi di zaman modernisasi saat ini.[13]
Dengan akhlak yang baik, segala potensi yang dimiliki manusia, seperti ilmu pengetahuan, kekayaan, jabatan dan potensi-potensi lainnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama (an-Nahl: 97).
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Sebaliknya, dengan akhlak yang buruk, segala potensi tersebut akan sia-sia, bahkan cenderung merusak (Thaahaa: 124-126).
dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam Keadaan buta, Padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".[14]
Oleh karena itu, walaupun jiwa kita memiliki potensi untuk menjadi baik atau buruk, pontensi tersebut tetap harus digali, diarahkan, dan ditanamkan menuju ke potensi yang baik dengan cara mendidik akhlak anak-anak dan memberikan contoh tauladan yang baik.

C.    Internalisasi Agama
1.    Pengertian Internalisasi Agama
Internalisasi adalah pembinaan yang mendalam dan menghayati nilai-nilai religius (agama) yang dipadukan dengan nilai-nilai pendidikan secara utuh yang sasarannya menyatu dalam kepribadian peserta didik, sehingga menjadikan peserta didik memiliki satu karakter atau watak yang baik.
Internalisasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai agama Islam dapat diartikan sebagai suatu proses memasukkan nilai-nilai agama Islam secara penuh ke dalam hati, sehingga ruh dan jiwa bergerak berdasarkan ajaran agama. Internalisasi nilai agama terjadi melalui pemahaman ajaran agama secara utuh, dan diteruskan dengan kesadaran akan pentingnya agama Islam, serta ditemukannya posibilitas untuk merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
2.    Cara Menanamkan Nilai-nilai Agama
Dalam menanamkan nilai-nilai agama terdapat empat unsur penting di dalamnya yaitu guru (pendidik), siswa (peserta didik), materi pelajaran, kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler kerohanian Islam dan metode pelaksanaannya. Semua unsur tersebut saling terkait satu sama lain dalam upaya untuk menanamkan nilai-nilai agama Islam secara optimal. Selain itu, faktor terpenting yang harus dilakukan dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam adalah metode yang sesuai dalam menyamaikan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.[15]
Menanamkan nilai-nilai agama sedini mungkin merupakan bekal di kemudian hari untuk membentengi diri dari pengaruh yang merusak moral sehingga anak menjadi generasi yang berkualitas dengan bekal iman yang kuat.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan bahwa cara yang dilakukan untuk membina nilai-nilai keagamaan atau agama Islam pada anak/peserta didik dapat melalui beberapa metode, yaitu:
a)    Metode Pendidikan dengan Keteladanan (uswatun hasanah)
Keteladanan dalam pendidikan adalah suatu metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual dan sosial. Hal ini karena pendidik adalah contoh dalam pandangan anak dan akan ditiru dalam tindak tanduknya, baik disadari ataupun tidak, bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan baik yang bersifat material, inderawi atau spiritual karena keteladanan merupakan salah satu faktor yang menentukan baik buruknya anak didik.
Penelitian-penelitian sosiologis telah membuktikan bahwa sikap beragama didatangkan oleh identifikasi dengan sebuah suri tauladan. Kebanyakan orang meneruskan dalam hidupnya sendiri gaya religius yang telah mereka terima dari orang tua mereka sendiri. Praktek beragama dilestarikan dalam bentuk-bentuk yang pada dasarnya sama turun-temurun.
Al-qur’an telah menandaskan dengan tegas pentingnya contoh atau teladan dan pergaulan yang baik dalam usaha membentuk kepribadian seseorang. Al-qur’an menyuruh manusia untuk meneladani kehidupan Rasulullah saw dan menjadikan teladan yang utama. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab: 21 yang berbunyi:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan jitu dibandingkan metode-metode yang lainnya. Melalui metode ini para orang tua, pendidik memberi contoh atau teladan terhadap peserta didik bagaimana cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Para orang tua dan pendidik hendaknya mengetahui dan menyadari bahwa pendidikan keteladanan merupakan tiang penyangga dalam upaya meluruskan penyimpangan moral dan perilaku anak.
b)    Metode Pendidikan dengan Adat Pembiasaan
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, bertauhid murni, beragama yang lurus dan beriman kepada Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum: 30 yang berbunyi:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Oleh karena itu, perlu peran pembiasaan, pengajaran dan pendidikan dalam menumbuhkan dan menggiring anak ke dalam tauhid murni, akhlak mulia, keutamaan jiwa dan untuk melakukan syari’at yang lurus. Hal tersebut akan terlaksana dengan benar jika didukung oleh dua faktor yaitu pendidikan Islam dan lingkungan yang baik.
Pengajaran merupakan pendekatan melalui aspek teoritis dalam upaya memperbaiki anak, sedangkan pembiasaan ialah segi praktek nyata dalam proses pembentukan dan persiapannya. Masa anak-anak merupakan waktu yang tepat untuk memberikan pengajaran, pembiasaan dan latihan, karena hal tersebut merupakan penunjang pokok pendidikan dan sarana dalam upaya menumbuhkan keimanan anak dan meluruskan moralnya.
c)    Metode Pendidikan dengan Nasihat
Nasihat merupakan metode paling efektif untuk mendidik anak dalam upaya membentuk keimanan anak, mempersiapkannya secara moral, psikis, sosial serta mengajarinya prinsip-prinsip tentang Islam. Metode inilah yang paling sering digunakan oleh para orang tua, pendidik, dan da’i terhadap anak/ peserta didik dalam proses pendidikannya. Memberi nasihat sebenarnya merupakan kewajiban umat muslim seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyaat: 55 yang berbunyi
dan janganlah kamu Mengadakan Tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.
Supaya nasihat dapat terlaksana dengan baik, maka dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:
1)    Gunakan kata dan bahasa yang baik dan sopan serta mudah dipahami.
2)    Jangan sampai menyinggung perasaan orang yang dinasihati atau orang sekitarnya.
3)    Sesuaiakan perkataan kita dengan umur, sifat dan tingkat kemampuan anak atau orang yang kita nasihati. Perhatikan saat yang tepat dalam menasihati. Usahakan jangan menasihati ketika kita atau yang dinasihati dalam keadaan marah.
4)    Usahakan ketika memberi nasihat tidak didepan orang banyak kecuali ketika pengajian atau ceramah.
5)    Beri penjelasan, sebab atau kegunaan mengapa kita perlu member nasihat.
6)    Untuk lebih menegaskan, sertakan ayat-ayat al-qur’an, hadits, atau kisah para nabi, para sahabat, atau orang-orang shalih.
Oleh karena itu, orang tua atau pendidik apabila sedang berkumpul bersama anak-anaknya hendaknya diisi dengan menceritakan kisah-kisah dan hikmah yang berintikan nasihat dengan cara yang tidak membosankan dan bervariatif. Sehingga tujuan membentuk rohani, jiwa, akhlak dan tingkah laku mereka tercapai.
d)    Metode Pendidikan dengan pengawasan
Pendidikan yang disertai dengan pengawasan yaitu mendampingi anak dalam upaya membentuk akidah dan moral anak. Islam dengan peraturan-peraturannya mendorong para orang tua serta pendidik untuk selalu mengawasi dan mengontrol anak-anak dalam setiap segi kehidupan dan setiap aspek kependidikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim: 6 yang berbunyi:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Hal-hal penting yang perlu diketahui dan disadari orang tua atau pendidik bahwa pengawasan tidak terbatas pada satu atau dua aspek pembentukan jiwa saja tetapi juga mencakup segi keimanan, intelektual, moral, fisik, psikis dan sosial kemasyarakatan.
e)    Metode Pendidikan dengan Hukuman (sanksi)
Sesungguhnya hukum-hukum syari’at yang lurus dan prinsip-prinsip yang universal bertujuan memelihara kebutuhan-kebutuhan asasi yang harus dipenuhi manusia dan hidup untuk mempertahankan prinsip-prinsip ini, maka para ulama mujtahid dan ushul fiqih berpendapat bahwa kebutuhan-kebutuhan asasi tersebut ada lima yaitu: memelihara agama, memelihara jiwa, memelihara nama baik, memelihara akal dan memelihara harta benda.
Untuk memelihara semua itu, syari’at Islam memberi sanksi-sanksi terhadap orang yang tidak mematuhinya. Adapun sanksi-sanksi umum, berikut ini adalah metode yang diterapkan Islam dalam memberi sanksi terhadap anak, antara lain:
1)    Menasihati anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang (tanpa kekerasan).
2)    Memberi sanksi kepada anak yang salah
3)    Mengatasi dengan bertahap dari yang ringan sampai yang berat.
Jika seorang pendidik menyadari bahwa memperbaiki kesalahan dengan satu cara tidak membuahkan hasil, maka ia harus melangkah kepada sanksi yang lebih keras, seperti dipukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika sanksi pukulan tidak tidak mempan, maka sebaiknya sanksi harus diberikan dihadapan keluarga atau temannya agar dia lebih cepat sadar (insyaf).[16]

3.    Faktor yang Mempengaruhi dalam Menanamkan Nilai Agama
Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah yang direfleksikan ke dalam peribadatan kepada-Nya, baik yang bersifat haluminallah maupun habluminannas.
Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan.
a)    Faktor Pembawaan (Internal)
Fitrah beragama (taqwa) merupakan potensi yang mempunyai kecendrungan untuk berkembang. Sejak Nabi Adam sampai akhir zaman, menurut fitrah kejadiannya mempunyai potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan atau percaya adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa manusia itu memiliki fitrah untuk mempercayai suatu zat yang mempunyai kekuatan baik memberikan Sesuatu yang bermanfaat maupun yang mudhorot (malapetaka).
Dalam perkembangannya, fitrah beragama itu ada yang berjalan secara alamiah, dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para Rasul Allah SWT, sehingga fitrahnya itu berkembang sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Keyakinan bahwa manusia itu mempunyai fitrah atau kepercayaan kepada Tuhan didasarkan kepada firman Allah:
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al-A’raaf: 172)
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy-Syams: 8)

b)    Faktor Lingkungan (Eksternal)
Faktor perkembangan itu tidak akan terjadi manakala tidak ada faktor luar (eksternal) yang memberikan rangsangan atau stimulus yang memungkinkan fitrah itu berkembang dengan sebaik-baiknya. Faktor eksternal itu tiada lain adalah lingkungan dimana individu itu hidup. Lingkungan itu adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keluarga sangat berperan penting dalam pengembangan kesadaran beragama anak. Dalam Surat At-Tahrim: 6, menunjukan bahwa orangtua mempunyai kewajiban untuk memberikan pendidikan agama kepada anak dalam upaya menyelamatkan mereka dari siksa api neraka. Diungkapkan pula dalam sebuah hadist, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orangtuanyalah yang menjadi anak itu yahudi, nasrani, atau majusi.
Keberadaan lingkungan sekolah Hurlock (1959) mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kepribadian anak, karena sekolah merupakan substansi dari keluarga dan guru substansi dari orangtua.
Lingkungan masyarakat merupakan interaksi sosial dan sosialkultural yang potensial berpengaruh terhadap perkembangan beragama anak. Dengan adanya sentuhan atau interaksi dengan sesama di dalam sebuah sosial kemasyarakatan dengan sendirinya kepribadian anak dipengaruhi oleh kebiasaan atau adat masyarakat yang membangunnya.[17]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ketiganya sangat berperan penting dan memiliki keterkaitan yang erat terhadap kejiwaan seseorang yang telah berkecimpung di masyarakat tempat dimana ia hidup agar anak tidak terjerumus ke dalam lubang hitam maka perlu ditanamkan tauladan atau contoh yang baik kepada anak sehingga anak dapat terarahkan pada hal-hal yang positif. Dan dapat dilihat bahwa kualitas perkembangan kesadaran beragama anak sangat bergantung kepada kualitas perilaku atau akhlak anak itu sendiri.

D.    Kejiwaan Seseorang yang Memegang Teguh dan Menjalankan Agamanya
Kondisi umat Islam dewasa ini semakin diperparah dengan fnomena kehidupan yang dapat menumbuhkembangkan sikap dan perilaku kepada suatu bentuk degradasi nilai-nilai keimanannya. Fenomena yang cukup berpengaruh, di antaranya:
1.    Tayangan media televisi tentang cerita yang berifat kemusyrikan.
2.    Gadget-gadget canggih yang dapat menyebabkan akhlak bangsa tercoreng hanya karena terlalu sibuk dengan aktivitas dunia maya disbanding ibadah kepada Allah swt.
3.    Krisis ketauladanan dari para pemimpin yang justru mereka banyak berperilaku menyimpang dari nilai-nilai agama.
Sosok pribadi orang Islam (seperti yang disebutkan diatas) tentu tidak menguntungkan bagi umat itu sendiri karena akan menghambat kemajuan umat Islam dan bahkan dapat memporakporandakan ikatan ukhuwah umat Islam itu sendiri.
Seharusnya, agar umat Islam bangkit menjadi umat yang mampu mewujudkan misi Rahmatan lil ‘alamiin maka sudah sepatutnya mereka memiliki pemahaman secara Kaffah tentang Islam itu sendiri. Selain itu, agah umat Islam tidak hanya memiliki kekuatan dalam bidang Iman dan Taqwa, maka umat Islam juga harus membidangi bidang Ilmu dan Teknologi, sehingga para kaum muslimin seantero jagad raya ini tidak lamban dalam bidang teknologi dan tidak dibodohi oleh kaum yang ingin menjajah umat Islam.
Di samping umat Islam memperdalam agamanya, mereka diharapkan mampu mengintegrasikan antara pengalaman ibadah kepada Allah dengan makna esensial ibadah itu sendiri dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengendalian diri, sabar, jujur, amanah, dab saling menghormati serta tidak menyakiti orang lain. Dengan begitu, akan terbentuk Negara yang subur makmur dan penuh pengampunan Allah swt.
Hal inilah yang seharusnya tertanam pada setiap insan kaum Muslimin agar mereka tetap memegang teguh dan menjalankan perintah-perintah-Nya sehingga dapat mengantarkan kepada agama yang lurus, dan meraih kesuksesan pada Jannah-Nya.

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Setelah mengetahui kajian tentang pendidikan agama yang ditinjau dari aspek kejiwaan, ternyata keduanya sangat berkaitan untuk mencapai keberhasilan dengan cara memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Karena pendidikan tanpa agama akan pincang, yaitu terjadi ketidak seimbangan antara moralitas dengan pengetahuan yang dimiliki. Sehingga kebiasaan beragama dari usia dini akan tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang.
Dalam beberapa kajian yang telah dibahas, juga sangat berkaitan antara pendidikan agama dengan aspek-aspek yang dibahas yakni pendidikan akidah, pendidikan ibadah, dan pendidikan akhlak yang semuanya dilihat dari aspek kejiwaan. Sehingga seseorang telah dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari setelah melalui proses pendidikan karena sudah tertanam dalam dirinya melahirkan kebiasaan dan akan semakin menambah keridhoan Allah swt kepada hambanya ketika ia memperdalam agamanya.
Selanjutnya, akan tertanamalah pendidikan agama tersebut dalam jiwa-jiwa yang diridhoi Allah dan dapat terinternalisasi ke dalam dirinya sehingga akan semakin bertambah ketakwaan seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.
Dengan begitu, setiap diri manusia akan memegang teguh dan menjalankan perintahNya sehingga dapat mengantarkannya kepada agama yang lurus dan meraih kesuksesan pada Jannah-Nya.

B.    Saran
Berdasarkan pada pembahasan dan kesimpulan, maka penulis mengharapkan agar setiap individu semakin dekat dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga pendidikan yang diperoleh menghasilkan suatu terjadinya relevansi yang kuat, karena hal itu merupakan tuntunan dan pedoman hidup bagi umat Islam agar tertanam suatu proses internalisasi dalam diri manusia yang semakin menambah ketakwaan kepada sang Maha Pencipta dan mendapatkan ridho Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA

as Sadr, Sayyid Mahdi. Saling Memberi Saling Menerima: Kiat-Kiat Sukses Menjalin Hubungan dalam Hidup. Jakarta: Pustaka Zahra. 2003.
Fithriyah, Eviy Aidah. Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Terhadap TIngkah Laku Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Kerohanian Islam di MAN Malang I. UIN Maulana Malik Ibrahim: Malang. 2009. SKRIPSI
Hafidhuddin, Didin. Islam Aplikatif. Jakarta: Gema Insani Press. 2003
Hery Nugroho (NIM: 105112084). Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 3 Semarang. (IAIN Walisongo: Semarang. 2012. SINOPSIS TESIS
Salih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan. Kitab Tauhid I. Jakarta: Yayasan Al- Sofwa. 2000.
Thib Raya, Ahmad dan Siti Musdah Mulia. Menyelami Seluk-Beluk Ibadah dalam Islam. Jakarta Timur: Kencana. 2003.
Zuhairini, dkk,. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.
http://aariefr.blogspot.com/2012/05/internalisasi-nilai-agama-dan-faktor.html diakses pada tanggal 12 April 2014 pukul 12:47 WIB



[1] Hery Nugroho (NIM: 105112084), Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 3 Semarang, (IAIN Walisongo: Semarang), 2012, hlm 11. SINOPSIS TESIS yang diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Islam Konsentrasi Pendidikan Islam.
[4] Salih bin fauzan bin Abdullah Al Fauzan. Kitab Tauhid I (Cet: Ke-2 Yayasan Al-Sofwa Jakarta, 2000) Hal. 3.
[6] DR. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press), 2003, hlm 230-231.
[8] Dra Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 2008, Hlm. 158.
[9] Ahmad Thib Raya dan Siti Musdah Mulia, Menyelami Seluk-Beluk Ibadah dalam Islam, (Jakarta Timur: Kencana), 2003, hlm 137.
[10] Sayyid Mahdi as Sadr, Saling Memberi Saling Menerima: Kiat-Kiat Sukses Menjalin Hubungan dalam Hidup, (Jakarta : Pustaka Zahra), 2003, hlm 6.
[11] DR. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press), 2003, hlm 231-232.
[14] DR. K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press), 2003, hlm 216-217
[15] Eviy Aidah Fithriyah, Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Terhadap TIngkah Laku Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Kerohanian Islam di MAN Malang I, (UIN Maulana Malik Ibrahim: Malang), 2009, SKRIPSI
[16] Ibid. Dikutip dari tulisan Abdullah Nashih Ulwan dengan judul buku “Pendidikan Anak Menurut Islam Kaidah-Kaidah Dasar“ (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hal. 1-162